Bergerak Seperti Siput


Di kota-kota besar, kemacetan lalu lintas bukan merupakan suatu hal yang aneh lagi bagi masyarakat yang tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya. Pada pagi hari kemacetan lalu lintas mulai terasa ketika warga masyarakat memulai aktivitasnya untuk berangkat ke tempat mereka bekerja dan saat para pelajar mulai berangkat ke sekolah. Untuk menunjang aktivitas tersebut, biasanya mereka menggunakan transportasi milik pribadi. Banyaknya jumlah pengguna transportasi pribadi semakin memperparah kemacetan di jalan raya. Ini terlihat dari semakin meningkatnya jumlah kendaraan pribadi dari tahun ke tahun, tidak tertibnya para pengguna kendaraa pribadi untuk mematuhi rambu lalu lintas yang ada di jalan raya, dan juga kemacetan semakin diperparah karena kurangnya minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum yang telah disediakan oleh pemerintah.
            Angka pemilik kendaraan pribadi terus meningkat setiap tahunnya. Menurut data Pemprov DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya pada bulan Januari 2013 jumlah kendaraan bermotor mengalami peningkatan 11% dari tahun sebelumnya. Maraknya promosi kendaraan bermotor baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat membuat masyarakat tergiur untuk memiliki kendaraan pribadi. Ditambah lagi dengan berbagai macam fasilitas kemudahan yang ditawarkan. Sekarang ini masyarakat bisa memiliki kendaraan bermotor dengan uang muka yang rendah dan juga cicilan yang ringan. Dengan kondisi seperti ini masyarakat seakan berlomba-lomba untuk memiliki kendaraan pribadi lebih dari satu unit setiap keluarga. Saat aktivitas dimulai dan seluruh kendaraan pribadi mulai memadati jalan raya, maka kemacetan tak dapat terelakkan lagi. Hal ini juga semakin diperparah dengam pertumbuhan jumlah kendaraan tak sebanding dengan pertumbuhan panjang ruas jalan di DKI Jakarta yang hanya meningkat 0.01% setiap tahun.
            Ada berbagai macam tata tertib dan rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh para pengguna kendaraan pribadi. Namun tak jarang dari mereka malah melanggar tata tertib maupun rambu lalu lintas yang ada. Mereka berdalih karena ingin cepat sampai pada tujuan tanpa memperdulikan rambu lalu lintas yang ada. Karena hal itu pula, banyak pengguna kendaraan pribadi yang saling mendahului dan tidak mau menunggu lampu merah saat berada di perempatan jalan. Dengan berperilaku seperti itu, apabila terjadi kecelakaan akan ada banyak orang yang berhenti untuk membantu atau hanya sekedar menonton kejadian tersebut sehingga menambah kemacetan yang ada.
            Menanggapi hal ini, pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah sudah menyediakan transportasi umum yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat. Namun minat masyarakat menggunakan transportasi umum untuk bepergian masih kurang. Banyak alasan yang mereka utarakan, seperti suasana yang tidak nyaman, kotor, panas, penuh debu, dan lain sebagainya. Padahal sekarang ini pemerintah sudah memperbaiki fasilitas kendaraan umum dengan memperkenalkan bus trans jakarta dan juga kereta api. Tarif yang ditawarkanpun sama sekali tidak menguras dompet kalau dibandingkan dengan bensin yang terbuang percuma saat kemacetan terjadi. Dengan menggunakan transportasi umum, kita tidak perlu menguras energi untuk berkonsentrasi penuh seperti saat mengendarai kendaraan pribadi.
            Dengan demikian, banyaknya jumlah pengguna kendaraan pribadi  menjadi salah satu faktor utama penyebab kemacetan di jalan raya khususnya di ibu kota. Selain itu, dengan tidak tergiur untuk memiliki kendaraan pribadi dengan jumlah lebih dari satu, tertib berkendara, dan mematuhi rambu lalu lintas kemacetan juga dapat dikurangi. Tidak ada salahnya juga jika masyarakat mulai memanfaatkan transportasi umum yang telah disediakan oleh pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan menghemat biaya bensin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

YUK, MEMILIH BENTUK USAHA SWASTA YANG TEPAT BAGI PERENCANAAN PAJAK