Ruang Panjang Sesak yang Diterpa Sinar Matahari Senja

Rumah adalah tempat yang paling aku tunggu seusai melakukan berbagai macam kegiatan yang melelahkan. Matahari sudah mulai bergerak ke arah Barat. Semburat cahaya orange menerpa wajahku dan mengiringi langkahku menuju stasiun. Aku menengok jam tangan berwarna hitam yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Jarum detik yang terus bergerak menimbulkan suara detik kecil. Jarum jam pendek menunjuk angka 4 dan jarum jam panjang menunjuk angka 6. Aku menghela napas panjang karena pulang lebih lama dari biasanya. Tas yang kupikul di pundak kanan terasa semakin berat karena badan yang terasa lelah.
                Setelah membeli tiket dan masuk ke dalam stasiun, aku berdiri menunggu kereta datang. Suara pluit kereta datang sudah terdengar. Para penumpang lain yang sedang duduk menunggu bangkit berdiri hendak masuk kereta. Kereta dengan belasan gerbong melintas tepat di hadapanku dengan pelan, kemudian berhenti. Tiap gerbong terisi penuh dengan orang-orang yang hendak pulang ke rumah. Setelah beberapa penumpang turun dari gerbong, kami yang sudah sekitar sepuluh menit menunggu mulai melangkah masuk ke dalam gerbong.
                Seperti yang kukatakan, gebong kereta terasa sangat sesak. Tempat duduk tidak ada yang tersisa. Aku berdiri di pojok gerbong dan menyandarkan diri pada sisi gerbong. Cahaya matahari yang hendak masuk terhalangi oleh tirai yang diturunkan oleh penumpang terdahulu. Setiap stasiun semakin banyak penumpang baru yang masuk. Orang-orang sampai tidak perlu berpegangan karena sangat penuh. Banyak orang yang menggunakan masker dan menggendong tas punggungnya di bagian depan. Beberapa orang juga mendengarkan musik atau bermain gawai untuk menghilangkan rasa bosannya.

                Stasiun yang aku tuju akhirya tiba. Sudah tidak terlalu banyak penumpang karena sebagian besar dari mereka turun di dua stasiun sebelumnya. Setelah kereta berhenti, aku turun melalui pintu gerbong yang terbuka lebar. Cahaya orange sudah mengilang dan digantikan dengan warna langit gelap. Lantunan shalat magrib kemudian mengiringi perjalanan pulangku samai ke rumah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

YUK, MEMILIH BENTUK USAHA SWASTA YANG TEPAT BAGI PERENCANAAN PAJAK